alifahru on June 2nd, 2010

“Matamu itu sobek”, bentak temanku. “Satu tambah satu, pakai logika macam apapun ya tetap dua.” Tambahnya. Rupanya temanku ini sudah sedemikian marahnya padaku. Memang dia selama ini sudah berusaha menjelaskan secara rinci dan logis, bahwa satu tambah satu pasti hasilnya dua. Mulai dari pakai alat sapu lidi sampai sempoa. Tapi otakku tetap masih bebal, perasaanku mengatakan bahwa satu tambah satu yang tetap satu. “Goblok, hitung-hitungan ya jangan pakai perasaan. Pakai perasaan kalau sedang di atas isterimu saja.” Tambah marah saja ini temanku.

Mungkin benar apa yang dikatakan temanku. AKu memang bebal. Tidak pandai menempatkan penggunaan logika dan perasaan. Tapi bukankah perasaan juga punya logikanya sendiri. Bukankah semuanya bisa dilogika, walau itu juga masalah rasa. Nah, dalam rasa ini aku belum menemukan rumus logika yang pas. Sehingga aku tetap merasa, satu tambah satu ya satu. Logika perasaanku yang salah atau harusnya jangan pakai rasa, tapi langsung pakai logika. “alah mbuh…., kamu apapun pakai dirasa. Jadi lelaki itu harus selalu memaksimalkan fungsi pikiran dan otak. Bukannya rasa atau romantisme gombalmu saja yang dikedepankan.” Ejek temanku.

Entah sampai kapan aku tetap merasa bahwa satu tambah satu adalah satu. Tidak mungkin juga aku menghilangkan rasa. Entah apa jadinya hidup ini kalau tidak pakai rasa. Tapi entah bagaimana juga hidupku ini kalau sering mengacuhkan logika. Yang ada mungkin jadi merana……

Share/Save/Bookmark

alifahru on June 1st, 2010

Karya Danarto

Pagi itu saya mengantar beberapa ekor ikan kepada Kanjeng Rasul Muhammad SAW. di rumahnya. Ikan-ikan yang saya jaring dari Laut Merah itu menjadi sumber penghidupan kami. Hidup bersama laut sebagai nelayan dengan keluarga ayah, ibu, dan dua saudara perempuan kami mencipta ikan-ikan seperti mainan yang dapat kita panggil sewaktu-waktu.

Ayah pernah bercerita bahwa para rasul dan para nabi boleh dikata tidak makan ikan, namun tidak mengurangi minat saya untuk mempersembahkan ikan yang barangkali saja satu saat dapat menerbitkan selera makan utusan Allah itu. Hidup sezaman dengan Kanjeng Rasul Muhammad rasanya seperti hidup di lingkungan yang tertata rapi dengan sendirinya. Dalam segala hal, kami umatnya, diayomi seperti bibit tanaman kecil yang dipeluk dalam dadanya dari badai gurun.

Beberapa ekor ikan yang saya persembahkan itu diterima sendiri oleh Kanjeng Rasul. Waktu itu hari telah beranjak siang, beliau sedang menjamu makan beberapa orang tamu. Kesibukannya sehari-hari tak mengurangi minatnya untuk menemui siapa saja yang ingin menemui beliau, termasuk anak nelayan yang belum lima belas tahun ini. Beliau menatap sejenak ikan-ikan itu sambil mengucapkan terimakasih dan menjinjingnya masuk ke rumah. Ketika saya beranjak pergi, Kanjeng Rasul menemui saya di belakang rumahnya dengan memberikan dua ekor kambing jantan dan betina. Ketika saya ragu-ragu untuk menerimanya, beliau mengatakan supaya saya memelihara kambing-kambing itu dengan baik.

Ayah dan ibu penuh tanda tanya memandangi kambing-kambing itu. Sedang kedua saudara perempuan saya senang sekali menerima binatang-binatang itu. “Kamu jangan mengganggu Kanjeng Rasul dengan ikan-ikanmu itu,” kata ayah. “Sudahlah,” kata ibu. “Kamu tak perlu mengirim ikan lagi kepada beliau.” Sebaliknya kedua saudara perempuan saya mengatakan,” Kenapa tidak? Kanjeng Rasul tentu senang menerima ikan-ikan itu yang jarang menjadi lauk makannya.”

“Kalian sok tahu,” tukas ibu. Di laut lepas, Laut Merah, ayah dan saya terapung dalam perahu yang tenang. Sedikit demi sedikit kami mengumpulkan ikan-ikan segar yang kami jaring. Binatang tangkapan itu rasanya dicurahkan dari laut ke dalam perahu kami. Begitu mudah. Apakah ini berkah Rasul? Tidak berapa lama, perahu kami penuh. Tumpukan ikan-ikan itu bagai harta karun terkena sinar matahari. Rasanya kami habis menguras dari dasar laut. Sebelum kembali ke darat, kami beristirahat sambil menikmati roti dengan lauk ikan bakar bekal kami. Ayah menenggak air dari kantung kulit kambing lalu tertidur dengan atap jerami yang melindungi dari terik matahari. Menjelang sore, ketika warna jingga menghiasi langit yang dipancarkan matahari, kami mendarat kembali.

Dalam tujuh hari, kami mengambil satu hari untuk beristirahat dari melaut. Ini kesempatan yang baik buat bermain dengan kambing pemberian Kanjeng Rasul. Kedua saudara perempuan saya cukup senang menggembalakan kambing-kambing itu di padang rumput di dekat oase. “Apa kamu senang bermain di sini?” katanya pada seekor di antaranya. “Rumputnya cukup lezat, kan?” kata yang seorang pada seekor yang lain. Keduanya memperoleh kegembiraan seperti mendapatkan hadiah mainan.

Di tepi oase yang ramai dikunjungi kafilah dari berbagai kawasan itu, juga dari negeri-negeri jauh, saya jatuh teridur dibuai angin sejuk pegunungan. Saya bermimpi. Saya bertemu Kanjeng Rasul di tepi pantai Laut Merah. Beliau mencomot rembulan dan mencelupkannya di Laut Merah seketika air laut itu bergelombang.

Saya terbangun karena pundak saya diendus seekor kambing mainan kedua saudara perempuan saya itu. Keduanya tertawa melihat saya yang kaget bangun. “Rupanya kambing itu sudah mulai ramah denganmu,” kata seorang di antaranya. “Bukan begitu,” kata adiknya.”Kambing itu mengendus semak yang teronggok dengan dengkur yang aneh.” Keduanya tertawa sambil menghalau kambing itu dari sisi saya.

Ketika saya berwudu untuk salat ashar dengan air oase itu, seseorang menghampiri saya dalam sosok yang membayang dalam air oase. Saya menoleh ke belakang namun tidak ada seorang pun. Saya salat berjamaah dengan sejumlah orang tua yang datang dari negeri jauh, sosok yang membayang itu rasanya ikut bermakmum di belakang saya. Begitu selesai salat, saya cepat-cepat menoleh ke belakang namun tak seorang pun tampak. Angin sejuk berembus. Matahari boleh jadi mau memberi tahu siapa itu sosok yang saya rasakan kehadirannya itu. Tapi entahlah. Dari jauh pada udara tak terjangkau, bergetar fatamorgana, mendendangkan air yang tak tersentuh. Kedua saudara perempuan saya berenang di dalam lautan pasir, meraba-raba batas udara.

Di rumah, kedua adik perempuan saya bercerita kepada ayah dan ibu dengan ramai tentang kambing-kambing yang digembalakannya. Binatang itu telah menjadi bagian keluarga kami yang penting. Ketika ibu bertanya, apa pengalaman saya bergaul dengan rombongan kafilah itu yang beristirahat di oase itu, saya ceritakan bahwa mereka walau tampak tua-tua namun kokoh dalam mengarungi padang pasir. Ketika saya tanyakan, apakah saya boleh mengembara bersama kafilah itu, satu saat nanti, ayah bilang boleh-boleh saja. Namun seorang nelayan adalah tetap seorang nelayan. Ia tak pergi jauh dari laut.

Kanjeng Rasul Muhammad SAW boleh dikata tak mengunjungi laut. Atau tidak beristirahat di tepi pantai. Beliau sibuk melayani umat dan harus beredar di antara umat di darat yang jauh dari laut. Beliau malah sering keluar masuk pasar untuk berbicara dan memberi hikmat kepada siapa pun yang beliau temui. Saya sering mengikuti beliau berdakwah di antara umat yang berbondong-bondong. Saya mendengarkan beliau berbicara kepada khalayak yang duduk atau berdiri. Saya sering bersama ayah, ibu, dan adik-adik, mengikuti beliau berdakwah ke mana saja. Sampai jauh dari rumah kami. Jika lelah, kami beristirahat dan menikmati bekal yang kami bawa dengan lauk ikan bakar. Ada satu hikmat yang saya pegang dari beliau bahwa seorang anak wajib berbakti kepada ayah dan ibunya.

Dalam keadaan Laut Merah yang bergolak, ayah tertidur pulas karena udara panas dan kelelahan, melompatlah seekor ikan besar ke dalam perahu kami. Saya kaget banget. Panjangnya dua lengan ayah yang terentang dan beratnya seberat tubuh saya, ikan itu berkata-kata kepada saya.

“Persembahkan saya kepada Kanjeng Rasul,” kata ikan itu. “Bagaimana mungkin?” jawab saya.
“Kamu pernah mempersembahkan beberapa ikan kecil kepada beliau.”
“Kok kamu tahu.”
“Persembahkan saya.”
“Bagaimana mungkin saya mampu membopongmu. Kamu begitu berat dan jarak rumah saya dengan rumah Kanjeng Rasul cukup jauh.” “Ayolah. Tolonglah saya.”
“Untuk apa kamu kepingin banget dipersembahkan kepada Kanjeng Rasul?”
“Supaya Kanjeng Rasul berkenan menyentuh tubuh saya.”
“Untuk apa sentuhan tangan Kanjeng Rasul?”
“Supaya saya bisa masuk surga.”
“Seandainya kamu seberat biji korma.”
“Keledai bisa memanggul tubuhku.”
“Tidak ada keledai yang gratis.”
“Carilah saudagar kaya yang dermawan yang mau meminjamkan keledainya.”
“Banyak saudagar kaya yang dermawan namun tak punya keledai.”
“Tanyalah keledai secara langsung dan mintai tolong dia.”
“Banyak keledai yang bisa dimintai tolong tapi mereka takut kepada tuannya.”
“Carilah keledai yang ringan hati yang tak takut kepada tuannya.”
“Banyak keledai yang ringan hati namun tak mau memanggul ikan. Alasannya: amis.”
“Carilah penjual parfum yang dermawan yang mau menyemprotkan minyak wanginya ke tubuh ikan.”

Dengan berkah Allah, akhirnya, setelah beberapa hari berburu ke beberapa penjuru padang, saya temukan seekor keledai liar. Ia mau memanggul ikan gede yang berat banget itu dan bau amis. Alasan keledai itu adalah ia kepingin juga tubuhnya disentuh Kanjeng Rasul. Saya sengaja bertolak dari rumah malam hari. Supaya tak diketahui ayah, ibu, dan adik-adik, saya pamit mau ke rumah teman.

Dengan sekuat tenaga, ikan gede itu saya gusur ke punggung keledai yang sengaja berbaring di tanah. Ikan itu lalu saya ikat ke tubuh keledai. Pelan dan tidak goyah, saya tuntun keledai itu berjalan. Melewati kawasan yang gelap dan terjal, keledai itu tersandung, namun, alhamdulillah, tidak jatuh. Keledai dan ikan itu tidak mengeluh. Rasanya keduanya akan menemui peristiwa yang paling menyenangkan dalam hidup.

Di rumahnya, Kanjeng Rasul sudah menunggu lama kami di pekarangan. Beliau menerima persembahan ikan gede itu. Mula-mula ikan itu dielus-elus. Air mata ikan itu berderai dan mulutnya tak mampu berkata-kata. Beliau membopong ikan itu ke dalam rumahnya. Lalu beliau keluar rumah lagi. Beliau lalu mengelus-elus keledai itu dan bercucuranlah air mata hewan berkaki empat itu. Begitu dielus-elus tubuhnya oleh Kanjeng Rasul, keledai itu lalu mati.

Saya pulang membawa hadiah lima ekor sapi. Hadiah yang besar. Saya mencium tangan Kanjeng Rasul dan saya minta beliau mengelus-elus kepala saya. Komplet rasanya warna-warni peristiwa yang saya alami hari itu. Pagi harinya, saya kena marah ayah dan ibu. Namun adik-adik membela saya.

Share/Save/Bookmark

alifahru on June 1st, 2010

Karya Danarto

Pertempuran terus menderu. Sudah lima jam belum juga reda. Pasukan Israel merangsek pejuang Palestina yang bertahan. Di antara puing rumah dan toko pejuang Palestina menyembul dan menyelinap. Rentetan tembakan tentara Israel mengenai potongan-potongan tembok.

Kami terjebak di Gereja Nativity, Yerusalem, tempat kelahiran Kanjeng Rasul Yesus Kristus. Sehabis umrah, kami sekitar lima belas orang menuju Palestina dengan bus. Kami singgah dan menginap di Amman, ibukota Yordania, mandi-mandi di Laut Mati. Dengan sejumlah bus, kami diangkut bersama dengan turis lainnya, kebanyakan dari manca negara seperti kami, menuju Palestina.

Setelah melewati pemeriksaan yang melelahkan, sekitar lima jam, oleh petugas pemerintah Israel yang muda-muda, kami bisa masuk Palestina. Kami tiba di Jericho, kota kecil yang sepi. Terlihat seorang muda Palestina menjinjing senapan laras panjang, melintas. Kami salat Ashar di sebuah masjid yang agaknya sudah menjadi langganan agen pariwisata. Lengang. Kota ini berada paling bawah, sekitar 400 m dari permukaan laut.

Kami lalu makan siang di Restoran Temptations yang mahalnya kelewat-lewat. Setelah kenyang, kami berbondong nginap di Hotel Victoria yang kelihatan kuno, dan penuh gendruwo. Arsitekturnya mengatakan itu.

O, betapa indahnya Palestina. Di waktu malam hari, kami yang berada di ketinggian, memandang ke bawah, persis di Puncak memandang Jakarta, kelap-kelip lampu berpijar-pijar, menghiasi seluruh lembah. Tampak Kiai Umar Budihargo yang memimpin robongan kami, berkaca-kaca ketika lelehan air matanya memantulkan sinar blits kamera Mas Fajri waktu berpotret-potretan. Malam gelap, memang. Kami bersikeras mengincar pemandangan yang kerlap-kerlip di lembah itu yang mudah-mudahan tertangkap kamera kami.

Persoalan Bangsa Palestina adalah persoalan kita. Bagaimana mungkin di milenium ketiga ini masih ada penjajahan. Banyak yang pesimistis bahwa Bangsa Palestina bisa mendapatkan kemerdekaannya dan memproklamasikan Republik Palestina menjadi negara berdaulat. Sebab, jika Republik Palestina diproklamasikan, pasti bangsa ini bebas berbelanja senjata dan tidak ada yang menghalang-halangi.

Itulah yang ditakutkan Israel. Pertarungan habis-habisan melawan Israel yakin terjadi dan bisa menggiring ke Perang Dunia III. Ada sebuah desa di Palestina, Armageddon namanya. Di desa inilah seluruh kekuatan dunia berkumpul untuk menyelenggarakan Perang Dunia III.

Adzan subuh mengantar kami berbondong ke Masjidil Aqsha. Udara yang cukup dingin, membuat kami menggigil. Waktu itu jamaah salat subuh tidak banyak. Seandainya habis salat lalu nyruput kopi dan makan bakso, o, alangkah lezatnya. Para jamaah setempat berpakaian tebal dan berkumpul menyatu. Kami sempat berpotret-potretan dengan takmir masjid di depan mihrab, yang tidak mungkin kami lakukan di mihrab Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi, juga Masjid Istiqlal.

Selalu saja pemerintah Israel berusaha merobohkan Masjidil Aqsha dengan segala cara. Segala tipu daya. Mereka ingin membangun kuil Sulaiman untuk menggantikannya. Terus-menerus sepanjang abad.

Tak kenal adab. Mereka masih hidup di zaman azab. Ada saja alasan mereka untuk menimbulkan kerusakan masjid suci yang merupakan tiga serangkai dari Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Akibat dari ngototnya pemerintah Israel untuk memusnahkan Masjidil Aqsha, terus-menerus memicu perlawanan sampai titik darah penghabisan para pejuang Palestina. Rasanya perdamaian tidak akan pernah bisa tercapai jika Israel tidak mengakui hak-hak bangsa Palestina.

Pertempuran terus berlangsung. Seperti penumbuk padi di atas lesung. Beruntun tak henti mengapung. Luka menganga, luka bangsa yang agung. Peta telah dibikin bingung. Damai, tidak, damai, tidak, lakukan apa pun bagai detak jantung. Tanah keras, berbukit, kebun pisang, tenda prajurit, ditelan udara suwung.

Lepas makan siang, kembali kami berpotret-potretan dengan latar belakang lembah yang dipenuhi pohon cemara. Semarak anggun. Kami melihat ada upacara penguburan. Balutan suasana harumi. Napak tilas para rasul para nabi. Bau wangi kesturi pembawa kitab suci. Kami antri untuk masuk ke Masjid Batu Karang (Qubbat al-Sakhrah/Dome of the Rock) bersama turis manca negara lainnya.

Masjid itu tempat suci bagi umat Islam, Kristiani, dan Yahudi. Kami antri untuk masuk ke ruang kecil di bawah batu karang yang sangat besar. Batu karang ini mau ikut terbang bersama Kanjeng Rasul Muhammad SAW ketika mampir ke sini sewaktu mi’raj. Ada telapak kaki Rasulullah di satu sudut yang saya usap dengan sajadah.

Ada kebiasaan saya selalu mengusap tempat atau tapak tilas suci dengan sajadah saya. Saya berbelanja banyak sajadah, juga sorban, yang gunanya untuk mengusap-usap tempat-tempat itu. Ingin saya membawa debu lewat sajadah dan sorban saya itu ke rumah. Sajadah dan sorban itu juga saya basahi dengan air zam-zam.

Dengan mengusap debu di tilas suci itu rasanya saya melewati masa-masa purbani yang tak bisa dimengerti dan selalu tersembunyi dalam rahasia. Hidup barangkali sebuah ruang yang sesungguhnya tidak ada yang kita menganggap bisa merabanya. Apa yang dapat dipikirkan ketika memejamkan mata, hilang ketika membuka mata. Kita terus-menerus memusatkan pikiran supaya bisa meraba.

Di dalam ruang sempit di bawah batu karang itu kami salat dua rakaat di sudut tempat Rasulullah salat. Di sebelah ada sudut untuk umat Kristiani dan di sudut yang lain untuk umat Yahudi. Kami hadir di dalam kurun yang baru yang kami rasakan dengan takjub. Mengejutkan. Jarak antara para Kanjeng Rasul dengan kami menyatu. Satu ukuran. Satu umat.

Para rasul dicipta khusus dengan satu tugas saja sedang kita orang kebanyakan dapat dan boleh menjadi apa saja dan berubah-ubah. Inilah kelebihan masing-masing yang tak boleh ditawar. Jauh-jauh kami menapak tilas para orang suci, dapatkah debu itu benar-benar berhasil dibawa pulang. Sajadah atau sorban atau tasbih akhirnya menciptakan jarak yang tidak dikehendaki.

Ahim dan Nina mulai menangis karena lapar dan haus. Romo penghuni gereja yang sekilas pernah terlihat, tidak nampak lagi. Bu Betty menenangkan keduanya. Ada sejumlah turis dari Barat dan anak-anaknya juga terjebak bersama kami. Anak-anaknya juga mulai menangis. Kami penuh penyesalan kenapa tidak berbekal roti kering dan air mineral. Bu Betty dan Bu Wiwiek mulai berlelehan air mata.

Kami sudah bosan menyaksikan siaran langsung pertempuran lewat televisi yang disuguhkan oleh gereja ini. Kiai Umar, Pak Toha, dokter Iqbal, Mas Fajri, Nurrahman, saya dan pemandu kami serta beberapa turis Barat mengintip dari pintu yang barangkali saja dapat sedikit meli hat pertempuran antara para pejuang Palestina melawan tentara Israel.

Tiba-tiba muncul seorang gadis kecil berkerudung yang uluk salam, “Salamu ‘alaikum.” Kami pun menyahutnya dengan, “Waalaikum salam.” Gadis itu, subhanallah, membawa teh panas, roti tawar dan madu untuk kami dan turis-turis Barat itu. Sebelum kami berkenalan, gadis cilik itu, sekitar 12 tahun, sudah pamit kembali ke belakang. Kami dan para turis Barat itu pun melahap roti yang bundar tipis yang kami guyur dengan madu sembari nyruput teh panas.

Setelah lima jam, setelah lapar dan haus, setelah merasa tidak ada pertolongan yang datang, berkah Allah muncul tak terduga. Seorang gadis kecil, seperti gadis-gadis kecil di Jogja atau Solo atau Jakarta dan Bandung, dapat menyelamatkan kami yang tidak tahu Barat dan Timur.

Kiai Umar, dokter Iqbal, Pak Toha, dan pemandu kami pergi ke belakang, mencari dapur, barangkali saja gadis kecil itu sedang duduk mencangkung. Dapur tidak ditemukan, juga gadis itu, tak ada. Kami lalu mencoba menemui pastor tapi tak ada seorang pun di belakang. Memang para turis dengan bebas keluar masuk di dalam gereja. Boleh dikata tidak ditemui seorang penjaga pun. Para turis yang datang langsung menuju sudut kecil tempat Rasul umat Kristiani itu dilahirkan.

Saya mengusapkan sajadah saya di tempat kelahiran Kanjeng Rasul Yesus Kristus yang ditengarai dengan lempengan bintang dua belas dan sebuah palung kecil tempat Rasul Allah itu dibaringkan setelah ibundanya kelelahan menyusuinya.

Dibanding umat Kristiani yang mengunjungi masjid, jauh lebih banyak umat Islam yang mengunjungi gereja-geraja. Pemandangan alam yang nyata. Memberi kesejukan pada mata. Kau kejar ke sana, jangan hanya raga. Kau kejar kemari, jangan hanya surga. Tuhan menyembunyikan semua. Supaya kita tidak rakus dan manja. Para rasul meminta kita, jadilah penanda.

Yerusalem milik kita bertiga. Jangan ada yang loba. Ketika kita menginjakkan kaki di tanah suci, ada debu kaki para rasul yang menempel di telapak kaki kita. Debu kaki siapakah ini. Siapa pun pemilik debu itu, itu debu sang suci yang telah menyadarkan bahwa kita hanyalah manusia.***

Share/Save/Bookmark

alifahru on June 1st, 2010

Karya Danarto

Sungguh saya tak juga mengerti kenapa cuaca menjadi sekacau ini padahal matahari tetap terbit di timur dan tenggelam di barat. Banjir masih juga melanda Pati, Jawa Tengah, meski sudah dua minggu, air tak juga surut. Sementara di Riau dan Jambi, hutan terbakar. Tapi apa peduliku, sedang cuaca juga tak mau tahu apa keinginan-keinginanku. Sebaiknya saya terus mengayuh rakit batang pisang ini, dari Pati ke Rembang, untuk menemui Kiai Zaim Zaman, barangkali beliau mau menolong kami mengatasi kesurupan massal yang melanda pesantren di desa kami. Saya melewati antrean kendaraan yang macet sepanjang 24 km yang terdiri dari truk, mobil-mobil pribadi, kontainer, bus, maupun motor karena tak mampu menembus banjir.

Air banjir setinggi satu setengah sampai dua meter mengganyang seluruh kawasan yang sangat luas, sawah-sawah yang siap panen, perumahan, perkebunan, tambak, kolam ikan, dan pertokoan, meliputi kota-kota Demak, Kudus, Rembang, Pati, Jepara, Juwana, Tuban. Tapi, apa Kiai Zaman sendiri tidak repot? Beliau tentu juga sangat dibutuhkan oleh pesantrennya yang juga dilanda banjir.

Saya mengayuh rakit menerjang sawah siap panen yang tenggelam yang airnya semakin tinggi. Sejumlah rakit dari batang pisang maupun bambu tampak berseliweran. Para penumpangnya yang saling kenal berteriak-teriak bertegur sapa. Terdengar gelak-tawa seolah tak peduli akan kesulitan hidup yang sedang dirundung. Mendadak mendung datang menyergap disusul hujan lebat. Subhanallah. Saya yang satu minggu kehujanan terus, rasanya badan bertambah ringan tapi dinginnya minta ampun. Tubuh saya menggigil dan saya sudah tak tahu jalan. Gelap gulita. Apa kiamat seperti ini? Geledek bersahutan seperti dihamburkan dari langit yang membuat saya tiarap gemetaran. Rasanya tubuh ini beku.

Halilintar menyilet langit memberi jalan rasa bersalah pada rakit saya. Mendadak laju rakit ini terhenti. Agaknya tersangkut sesuatu. Saya menunggu halilintar untuk mengirim sinar, namun tak kunjung muncul. Wahai, cahaya perak, cahaya perak. Saya meraba-raba apa gerangan yang menyebabkan rakit saya terhenti. Masya Allah, saya meraba tubuh orang. Cepat-cepat saya singkirkan tubuh itu dengan galah lalu saya menghindar dari tempat itu. Saya semakin menggigil. Tentu ada saja yang menjadi korban dari bencana yang besar ini mungkin tidak sedikit jumlahnya. Sawah siap panen yang tenggelam tentu menelan lebih banyak lagi korban. Ibu, ayah, dan anak-anak, juga nenek-kakek, cucu, cicit, ke mana mengungsi jika seluruh kawasan yang sangat luas ditelan banjir yang rasanya semakin tinggi ditambah oleh deras hujan.

Di dusun tak ada bangunan yang tinggi tempat mengungsi. Hanya bukit yang cukup sulit didaki karena licin dan terjal. Kebanyakan warga tetap di rumah masing-masing dengan bertengger di atap dengan payung atau lembaran plastik untuk menahan hujan.

“Kalau ibumu ini mati,” kata ibu yang duduk di atap rumah dengan memegangi payung dalam hujan lebat, “Cepat kuburkan.”

“Ah, ibu kok ngomong begitu,” sergah saya sambil memeluk tubuhnya yang gemetaran kedinginan.

“Jaga adik-adikmu.”

“Ibu saja yang menjaga adik-adik. Saya mau cari nafkah di Jakarta.”

“Tega kamu meninggalkan adik-adikmu.”

“Saya mau cari duit yang banyak untuk ibu dan sekolah adik-adik.”

Di atas atap dapur, ayah memeluk kedua adik saya yang basah kuyup karena tak terlindung dari hujan. Yang saya takutkan kalau tiba-tiba ibu atau ayah meninggal. Maka ketika banjir surut, kakak yang menetap di Jakarta memboyong ibu, ayah, dan kedua adik ke Jakarta. Ditinggalkannya saya sendirian di dusun untuk menjaga rumah. Tapi mereka tak betah di Jakarta. Terlalu bising, katanya. Lalu boyongan kembali ke desa, meski selalu kekurangan tapi cukup bahagia, katanya.

Kemudian kakak membangun rumah bertingkat untuk kami menghadapi banjir. Benar saja. Banjir yang lebih besar kali ini datang, ditambah 25 santri putri yang kesurupan diungsikan di rumah bertingkat kami. Alhamdulillah. Banyak jalan yang Allah bimbing supaya bangunan itu bermanfaat bagi sesama. Masalahnya kini adalah bagaimana bisa menemui Kiai Zaim Zaman dan di mana beliau berada jika di pesantrennya tak dijumpai sementara di mana-mana, sejauh mata memandang, air, air, air melulu yang tampak.

Tiba-tiba rakit mentok, sampai saya terjatuh. Kembali saya meraba-raba apa gerangan yang menyebabkan rakit ini berhenti. Ternyata tangan saya menyentuh tembok. Bangunan apa gerangan? Kembali kilat merobek udara. Sekilas terlihat bangunan putih ini masjid. Barangkali saya bisa mencapai atapnya supaya saya bisa tidur dan tidak terlalu kedinginan.

Pagi harinya masjid itu terkatung-katung di danau yang luas dengan saya satu-satunya berada di atapnya. Kadang gelombang menerpa karena digelontor angin puyuh yang juga mempertajam tetes hujan bagai jarum. Kadang batang-batang padi muncul di permukaan air lalu kembali tenggelam. Apa yang terjadi sesungguhnya? Siang harinya panas sangat teriknya. Sambil berayun-ayun dimainkan oleh kantuk, di atap masjid itu tidak hanya baju, tubuh saya juga mengering. Di tengah sawah yang sudah jadi danau ini, alur mana (?) saya tak lagi mengenal peta.

Di mana Pati, di mana Rembang, kedua kota itu mengingatkan saya akan hubungan rumah saya dengan rumah Kiai Zaim Zaman yang berada di tengah pesantrennya, di mana para santri, putra maupun putri, berseliweran berlarian, bermain maupun berdebat soal jodoh, juga Tuhan, yang membuat saya selalu kangen untuk mengunjunginya. Rumah tertutup pohon mangga yang sangat rindang, manalagi, nama yang mengingatkan orang sehabis menikmati sebuah lalu minta lagi, manis dari akarnya. Seorang kiai dengan pohon mangga yang lebat buahnya, merupakan perpaduan yang elok, dalam ukuran apa pun.

Karena panas tak tertahankan, saya mencari jalan turun ke dalam masjid. Meski sangat kesukaran, saya berhasil masuk ke ruang salat. Dua rakaat saya selesaikan setelah berwudu air banjir, saya tertidur tanpa diawali kantuk. Cukup lelap dan tak terganggu oleh mimpi. Waktu bangun, saya kaget bukan alang kepalang, Kiai Zaim Zaman berzikir di sisi saya. Saya bangun dengan sigap, mencium tangannya, menanyakan kesehatannya, meminta doa, berusaha sebaik mungkin untuk tidak kentara baru bangun dari tidur.

“Saya mendengar panggilanmu bertalu-talu,” kata Kiai Zaman hampir-hampir berbisik, “Maka cepat-cepat saya menemuimu.”

“Subhanallah,” seru saya.

“Saya sudah bertemu dengan dua puluh lima orang santri putri yang kesurupan itu di rumahmu dan mereka sudah baik kembali.”

“Subhanallah.”

“Orang-orang modern bisa juga kesurupan, ya.”

“Subhanallah.”

“Salamualaikum,” kata Kiai sambil ngeloyor pergi.

“Pak Kiai,” seru saya sambil mengejar beliau, ada hal-hal yang perlu saya tanyakan.

Di luar, Kiai Zaman berjalan di atas air tanpa mempedulikan panggilan saya, menjauh. Di dalam hati saya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya atas semua kebaikan Kiai yang mumpuni ini. Kapan seorang awam seperti saya bisa membalas kebaikannya dan jasa-jasanya dengan segala kemampuan yang tulus seperti selembar sajadah kepada sebongkah kepala yang sujud di atasnya. Semoga berkah Allah selalu mengayomi Kiai Zaim Zaman sekeluarga turun-temurun. Betapa seandainya kita punya banyak kiai seperti beliau, tangan yang dua lengan itu, kaki yang dua jenjang itu, sementara di luar sana, orang-orang berteriak meminta tolong, banyak sekali, ya, banyak sekali.

Ketika saya kembali ke dalam, di depan mihrab saya jumpai bertumpuk-tumpuk uang yang banyak sekali. Rasanya saya semakin banyak utang kepada Kiai ini, dari imbalan yang bisa disentuh tangan sampai berkah yang tidak kasatmata, orang-orang pernah berduyun-duyun menemui saya dengan seluruh permintaan yang bisa diucapkan mulut:

“Saya bukan Kiai Zaim Zaman,” teriak saya ketika itu kepada orang-orang itu, “Saya hanya orang yang kepengin seperti beliau.”

Pagi hari ketika matahari kencar-kencar dan mendung hitam sedang mengincar, saya mendayung rakit batang pisang ini meninggalkan masjid yang sudah memberi pelajaran banyak kepada saya dengan bertumpuk-tumpuk lembaran uang di atasnya. Saya mendayung kembali ke Pati dengan arah apa pun, ke sebuah dusun yang sunyi, kepada ibu, ayah, dan kedua adik saya, yang boleh jadi terus menunggu dengan harap-harap cemas.

Kembali rakit saya terhadang oleh antrean truk yang sangat panjang dalam kemacetan oleh banjir yang masih setinggi dada orang dewasa. Tetap betah juga sopir-sopir dan kenek-kenek itu melantunkan potongan-potongan lagu meningkahi irama dangdut yang tak kunjung padam. Bahkan yang beradu bidak-bidak catur sambil berendam dengan papan caturnya yang berayun-ayun oleh riak air yang dihembus angin atau sengaja diaduk-aduk oleh sejawatnya yang selalu mengganggu, diiringi ha ha ha he he he dan olok-olok yang diuleg sepedas mungkin sehingga banjir itu tambah sempurna mengharu-biru.

Ketika para sopir dan kenek itu melihat gepokan lembaran uang yang bertumpuk-tumpuk di atas rakit saya itu, saya pasrah setulus mungkin.

“Ya, Allah, semuanya ini milik-Mu,” doa saya.

Seorang sopir mengambil segepok uang itu dan menimpukkannya ke arah temannya sambil mencemooh, “Lo ambil! Lo yang mata duitan! Ha ha ha!”

Teman yang kena timpuk itu melempar uang itu ke teman yang lain sambil berteriak, “Gue ude konglomerat. Lo aja ambil yang masih kere!”

Akhirnya semua sopir dan kenek itu berebut uang di atas rakit saya dan saling timpuk-menimpuk sejadi-jadinya. Keadaan jadi kacau dan meriah. Penuh banyolan dan semprotan kata-kata konyol. Tentu banyak gepokan uang itu yang jatuh ke dalam air dan tenggelam.

“Ya, Allah, bukakan mata mereka. Itu uang beneran dan mereka boleh merebutnya,” doa saya dengan kenceng.

Anehnya para sopir dan kenek itu, subhanallah, menyelam dan menyelamatkan seluruh uang yang tenggelam dan mengembalikannya di atas rakit saya. Lalu mereka mendorong rakit supaya saya meneruskan perjalanan. Saya tertegun. Seperti mati berdiri. Bagaimana mungkin mereka tidak menyadari, uang yang saya bawa itu uang sungguhan. Bukan uang mainan. Masya Allah. Tuhan punya rencana.

Sesampai di rumah, ibu, ayah, kedua adik saya, dan para santri dengan sejumlah ustadnya yang masih menginap menyambut saya dengan sukacita.

Ketika ibu mengetahui saya membawa uang yang bukan main banyaknya itu, menyuruh saya membuang seluruh uang itu dengan mendorong rakit menjauh dari rumah. Menurut ibu, itu uang haram yang belum tentu dari Kiai Zaim Zaman. Dalam hati saya menyesal, kenapa saya tidak menyembunyikan segepok dua di dalam baju saya.

Malam harinya saya tidak dapat tidur karena perut keroncongan. Persediaan makanan habis sementara jumlah orang yang menginap di rumah bertambah setiap harinya. Dengan sebungkus mi-instan yang dibagi dua orang, semakin kentara kami butuh bantuan yang tak kunjung datang.

Pagi harinya kami dikagetkan oleh teriakan ibu, “Rakit itu kembali ke rumah!” yang disambut seisi rumah dengan takjub.

Ini artinya bergepok-gepok uang itu kembali ke tangan kami. Subhanallah.

Share/Save/Bookmark